Rabu, 09 Mei 2012

Mau Masuk Surga? Anda Wajib Meyakini Lima Prinsip Ini!


Alhamdulillah. Kita panjatkan segala puji pada Allah dan kita meminta pertolonganNya. Seraya memohon ampun dan meminta perlindunganNya dari segala keburukan jiwa dan dari kejelekan amaliah. Barangsiapa yang telah Allah tunjukkan jalan baginya, maka tiada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk. Ya Allah limpahkanlah salawat dan salam bagi Muhammad saw berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, semuanya.


Setiap kita pastinya ingin masuk surga. Hanya orang yang rusak akal dan fitrahnya yang siap masuk neraka. Sedangkan untuk masuk surga ada syarat yang harus dipenuhi. Ada jalan yang harus ditempuh. Ada pula I'tiqad dan amal yang harus dijalankan.

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menjelaskan syarat-syarat dan jalan menuju surga. Di antara yang terdapat dalam hadits Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'Anhu yang mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

"Barangsiapa bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan (bersyahadat) bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh daripada-Nya; dan (bersyahadat) pula bahwa surga benar adanya dan neraka benar adanya; pasti Allah memasukkannya ke dalam surga betapapun amal yang telah diperbuatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Makna syahadat ialah: persaksian dengan hati dan lisan dengan memahami maknanya dan mengamalkan tuntutannya secara zahir dan batin. Sebuah persaksian tidak sah kecuali jika bersumber dari ilmu (pengetahuan), keyakinan, ikhlas, dan jujur. Maka siapa yang bersaksi dengan lima perkara di atas berarti ia berikrar (mengucapkan)-nya dengan memahami maknanya, mengamalkan tuntutannya, secara lahir dan batin. (Lihat: Fathul Majid: 51-51)

Makna Laa Ilaha Illallah

Kesaksian pertama yang disebutkan dalam hadits di atas adalah bersyahadat Laa Ilaha Illallah. Maknanya bersaksi bahwa tidak ada yang disembah dengan hak (benar) kecuali Allah. Karena ma'budat (sesembahan/yang diibadahi) itu ada dua; Pertama, disembah dengan benar, yaitu Allah Ta'ala. Kedua, disembah dengan batil, yaitu setiap yang diibadahi selain Allah seperti patung-patung, berhala, para wali, orang-orang shalih dan semisalnya.

Maka makna syahadat ini: mengucapkan kalimat syahadat dengan mengetahui maknanya, benar-benar meyakininya, dan mengamalkan tuntutannya. Maka siapa yang tidak mau mengucapkan Laa Ilaha Illallah maka tidak dihukumi sebagai muslim, walaupun hatinya benar-benar mengetahuinya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, 

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaha Illallah . ."

Berucap dengan lisan saja juga belum cukup, tapi ia harus meyakininya dengan hatinya. Siapa yang hatinya tidak meyakini kalimat ini, ia bukan seorang muslim. Orang-orang munafikin mengucapkan Laa Ilaha Illallah, tapi mereka tidak meyakini maknanya. Mereka mengucapkannya atas kepentingan duniawi, karenanya mereka berada di kerak neraka paling bawah.

Munafikin: mereka menampakkan Islamnya dan menyembunyikan kekafirannya, di antara perbuatan mereka menghina agama, Rasul, atau membenci Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan apa yang beliau bawa.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan berkata: "Siapa yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah tanpa mengetahui maknanya, tanpa meyakini dan mengamalkan tuntutannya: berupa sikap bara' (lepas diri) dari kesyirikan, ikhlas dalam ucapan dan perbuatan, -ucapan hati dan lisan, amal hati dan anggota badan,- maka ucapannya itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma' (kesepakatan ulama)." (Fath al-Majid: 51)

Kalimat, wahdahu (Dia semata) menguatkan penetapan ibadah kepada Allah. sementara Laa Syariikalah (Tidak ada sekutu baginya) menguatkan peniadaan hak bermacam bentuk ibadah kepada selain Allah. Sehingga ringkas dari kandungan persaksian pertama dalam hadits ini, meniadakan peribadatan dari selain Allah dan menetapkannya hanya untuk Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan inilah isi Al-Qur'an dari awal sampai akhir, menjelaskan makna ini, menetapkan dan mengajak kepadanya.

. . . Siapa yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah tanpa mengetahui maknanya, tanpa meyakini dan mengamalkan tuntutannya, maka ucapannya itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma' (kesepakatan ulama). . .

Makna Muhammad Abduhu wa Rasuluh

Menjadi hamba Allah dan Rasul-Nya merupakan sifat mulia yang dimiliki Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bahwa beliau menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau bukan sekutu bagi Allah. Tidak pula mengajak manusia untuk beribadah kepadanya dan mengangkatnya sebagai Tuhan selain Allah. Karenanya tidak boleh bersikap berlebihan kepada beliau dengan mengangkatnya melebihi derajat kehambaannya kepada derajat tuhan.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam memang seorang hamba yang wajib beribadah kepada Tuhannya seperti yang lainnya, namun beliau dimuliakan lebih tinggi atas manusia selainnya dengan risalah. Allah memilihnya untuk menjadi utusan-Nya yang mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya semata. Sehingga beliau tidak boleh diremehkan, perkataanya tidak boleh didustakan, perintahnya tidak boleh dikesampingkan, dan larangannya tidak boleh diterjang. Kehidupannya menjadi teladan yang wajib diikuti. Siapa yang ingin dicintai oleh Allah, ia harus mengikuti beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Dalam Fathul Majid disebutkan, "Syahadat Muhammad adalah utusan Allah menuntut iman kepadanya, membenarkan kabar berita yang disampaikannya, mentaati apa yang beliau perintahkan, meninggalkan apa yang beliau larang dan cela, dan tidak mendahulukan perkataan siapapun atas perkataanya."

Makna Isa Adalah Hamba Allah dan Utusan-Nya

Kalimat Abdullah (hamba Allah) adalah sebagai bantahan terhadap keyakinan Nasrani yang meyakini Isa bukan hamba Allah tapi sebagai anak Allah, satu oknum dari tiga tuhan (trinitas). Bahkan mereka sampai menyebut Isa adalah Allah itu sendiri. Allah mengingkari keyakinan mereka dan menghukumi kafir atasnya, "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam"," (QS. Al-Maidah: 72), "Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga". (QS. Al-Maidah: 73).

Warasuluh (utusan-Nya) sebagai bantahan dan pengingkaran terhadap keyakinan Yahudi yang menentang risalah Nabi Isa 'alaihis salam, mendustakannya, menghinanya sebagai anak zina, terus memusuhi dan berusaha membunuhnya.           Kemudian Allah menyelamatkannya dengan mengangkatnya ke langit.

Dalam hadits ini dijelaskan hakikat Nabi Isa dan penciptaannya, keunikan dalam penciptaan beliau sebagai penciptaan Nabi Adam 'Alaihis Salam. Allah ciptakan dengan kalimatnya KUN (jadilah), maka beliau ada tanpa seorang bapak. Karenanya Nabi Isa disebut dengan kalimat karena Allah menciptakan Nabi Isa dengannya. Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (QS. Ali Imran: 59) Maksudnya: Jika kalian heran dengan penciptaan Isa, dia diciptakan dari seorang Ibu tanpa bapak, ia diciptakan dengan kalimat KUN, lalu jadilah ia, maka bagaimana kalian tidak lebih heran dengan penciptaan Adam yang diciptakan tanpa perantara seorang bapak dan ibu?.

Kehidupan yang Allah berikan kepadanya sebagaimana ruh-ruh bani Adam yang lain. Maknanya bukan dalam diri beliau 'Alaihis Salam bersarang ruh dari Dzat Allah Ta'ala, Maha suci Allah dari memiliki sekutu. Dikhususkan penyebutannya di sini karena beliau diciptakan tanpa perantara bapak. Ini terjadi dengan kuasa Allah 'Azza wa Jalla, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Makna Surga dan Neraka Benar Adanya

Dia juga bersaksi bahwa surga adalah negeri orang-orang bertakwa, sementara neraka sebagai tempat tinggal orang-orang kafir. Keduanya benar-benar ada. Keduanya sudah diciptakan dan sudah ada. Keduanya kekal dan tidak akan hilang untuk selama-lamanya.

Ibnul Qayim menjelaskan, bahwa surga dan neraka adalah negeri balasan pada hari kiamat. Negeri yang tak akan binasa dan hancur untuk selama-lamanya. Jika seseorang beriman dengan dua negeri ini maka akan mendorongnya beramal shalih dan bertaubat dari dosa. Sementara yang tidak beriman kepada akhirat, ia akan berbuat semaunya sesuai keinginan syahwatnya, ia tidak mengintrsopeksi diri mereka sendiri sebagaimana yang Allah kabarkan tentang kaum zalimin dan kafirin. Allah Ta'ala berfirman,

أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنْتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُمْ مُخْرَجُونَ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

"Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)?,jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi." (QS. Al-Mukminun: 35-37)

. . . Jika seseorang beriman dengan dua negeri ini maka akan mendorongnya beramal shalih dan bertaubat dari dosa. Sementara yang tidak beriman kepada akhirat, ia akan berbuat semaunya sesuai keinginan syahwatnya . . .

Balasan Untuk Lima Kesaksian di Atas

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengabarkan bagi siapa yang bersaksi dengan benar terhadap lima perkara yang telah disebutkan maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga seberapa amal yang diperbuatnya.

أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

"Pasti Allah memasukkannya ke dalam surga betapapun amal yang telah diperbuatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain berbunyi, "Allah pasti memasukkannya ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki."

Para ulama menjelaskan tentang makna balasan baik di atas dalam dua pendapat: Pertama, Allah pasti memasukkannya ke dalam surga walaupun di antara amalnya ada yang baik dan yang buruk. Karena ahli tauhid pasti akan dimasukkan ke dalam surga, hanya saja dia bisa dimasukkan segera atau diakhirkan setelah sebelumnya dibersihkan dosa-dosanya di neraka. Semua ini menunjukkan keutamaan tauhid dan ia menghapuskan dosa-dosa.

. . . ahli tauhid pasti akan dimasukkan ke dalam surga, hanya saja dia bisa dimasukkan segera atau diakhirkan setelah sebelumnya dibersihkan dosa-dosanya di neraka. . .

Kedua, Allah pasti memasukkanya ke dalam surga sesuai dengan amalnya. Karena sesungguhnya penghuni surga itu berbeda-beda atau bertingkat-tingkat tergantung sedikit dan banyaknya amal mereka. Amal penghuni surga saat di dunia berbeda-beda sehingga di akhirat mereka juga bertingkat-tingkat. Sebagiannya lebih tinggi daripada yang lain sesuai dengan kadar amal mereka.

Sesungguhnya surga itu bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih tinggai daripada yang lainnya. Neraka juga demikian, sebagiannya lebih rendah daripada yang lainnya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya di surga ada seratus derajat (tingkatan), jarak antara satu derajat dengan satunya seperti jarak antara langit dan bumi yang semua itu disediakan bagi para mujahidin (orang-orang yang berjihad) di jalan-Nya." (HR. al-Bukhari) Wallahu Ta'ala A'lam

0 komentar:

Posting Komentar