Senin, 11 Juni 2012

Sedekah; Sebab Keberkahan dan Bertambahnya Rizki


Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Sebagian orang masih juga mengira bahwa mengeluarkan harta dalam bentuk zakat, infak dan sedekah / shadaqah fi sabilillah akan mengurangi jumlah nominal harta dan menyebabkan kefakiran. Hal ini wajar, karena sifat dasar manusia adalah pelit. Ditambah lagi syetan selalu menakut-nakuti orang yang akan berinfak dengan kefakiran. Tujuannya agar mereka tidak mendapat pahala dan kebaikan yang menjadi sarana masuk surga.

Allah Ta'ala berfirman,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 268)

Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah Ta'ala, "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan", maksudnya: ia menakut-nakuti kalian dengan kefakiran supaya kalian tetap menggenggam tangan kalian, sehingga tidak menginfakkanya dalam keridhaan Allah.

"Dan menyuruh kamu berbuat buruk", maksudnya: bersama larangannya kepada kalian dari berinfak karena takut miskin, Setan menyuruh kalian dengan kemaksiatan, perbuatan dosa, keharaman, dan menyalahi perintah al-Khallaq (pencipta; yakni Allah Ta'ala)." 

Al-Jazairi berkata dalam menafsirkan "Dan menyuruh kamu berbuat buruk": dia (setan) menyeru kalian untuk mengerjakan perbuatan buruk, di antaranya bakhil dan kikir. Karenanya Allah Ta'ala memperingatkan para hamba-Nya dari setan dan godaannya, lalu mengabarkan bahwa setan menjanjikan dengan kefakiran, artinya: menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan sehingga mereka tidak mengeluarkan zakat dan shadaqah. (Sebaliknya) ia menyuruh mereka untuk berbuat buruk sehingga mengeluarkan harta mereka dalam keburukan dan kerusakan, serta bakhil mengeluarkannya untuk kebaikan dan kemaslahatan umum."

Padahal sebaliknya. Harta yang dikeluarkan fi sabilillah (di jalan Allah) akan mendatangkan keberkahan. Yakni menambah kebaikan dari harta itu dan berkembang menjadi banyak seperti dalam firman Allah Ta'ala,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah." (QS. Al-Baqarah: 276)

Makna Allah menyuburkan sedekah adalah memperbanyak dan mengembangkannya di dunia. Sedangkan di akhirat, Allah menjaganya semenjak di keluarkan harta tersebut untuk infak. Penjagaan ini seperti seseorang menjaga benih yang ditanamnya dengan diperhatikan dan dipupuk sampai benih tersebut menjadi pohon yang besar. Atau seperti seseorang yang menjaga dan memelihara anak kuda yang masih kecil, ia beri makan dan ia rawat dengan baik sehingga menjadi kuda yang besar dan tangguh. Artinya pahala besar akan ia peroleh walaupun melalui infak yang sedikit.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, Allah Ta'ala berfirman:

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

"Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya aku berinfak kepadamu." (Muttafaq 'Alaih) Maknanya adalah Aku beri ganti yang lebih baik untukmu. Ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba': 39)

Hadits ini sangat agung. Ia mengandung perintah untuk bersedekah dalam kebaikan dan berinfak fi sabilillah. Lalu anjuran untuk bergembira dengan ganti dari kemurahan Allah Ta'ala. Bahwa sedekah dan infak termasuk sebab utama datangnya keberkahan dan dilipatgandakannya rizki. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberi ganti dengan surga bagi siapa yang berinfak di jalan-Nya.

Keutamaan Infak dan Sedekah

Banyak sekali nash-nash yang menjelaskan keutamaan sedekah dan infak fi sabilillah. Fungsinya, sebagai perintah bagi orang muslim agar memberikan sebagian dari hartanya untuk mengharapkan pahala yang besar dari Allah Ta'ala. Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan infak kepada Sail wa Mahrum (para peminta-minta dan orang susah yang menahan diri dari meminta-minta) sebagai sifat khusus hamba-hamba Allah yang muhsinin. Sebagaimana dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala, "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam;Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian." (QS. Al-Dzaariyat: 15-19)

Allah juga berjanji, Dia akan memberikan untuk munfiqin balasan berlipat-lipat yang lebih besar dari apa saja yang telah mereka infakkan. Ini berlaku di dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak." (QS. Al-Baqarah: 245)

Sedekah dan infak adalah salah satu pintu kebaikan. Juga termasuk bagian terbesar dari bentuk jihad. Bahkan semua ayat yang berbicara jihad, jihad harta didahulukan atas jihad dengan jiwa kecuali hanya satu tempat, yakni QS. Al-Taubah: 111. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Jihadilah orang-orang msuyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian." (HR. Abu Dawud)

Infak dan sedekah juga merupakan amal shalih yang paling dicintai Allah sebagaimana dalam sebuah hadits, "Kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati orang mukmin, menghilangkan kesulitannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya." (HR. al-Baihaqi)

Infak dan sedekah bisa mengangkat kedudukan pelakunya sampai pada kedudukan tertinggi. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya dunia ini untuk empat orang: hamba yang Allah beri harta dan ilmu lalu dengannya ia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahim, dan mengetahui hak Allah dalam hartanya, inilah orang yang berada pada tingkatan paling utama. . ." (HR. al-Tirmidzi)

Sedekah atau infak juga bisa menghindarkan pelakunya dari musibah dan mara bahaya. Selain itu sedekah juga bisa menyelamatkan orang yang bersedekah dari bencana dan kesulitan. Hal ini seperti sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

المعروف إلى الناس يقي صاحبها مصارع السوء و الآفات و الهلكات و أهل المعروف في الدنيا هم أهل المعروف في الآخرة

"Berbuat baik kepada manusia menghindarkan pelakunya dari kematian buruk, musibah, dan kehancuran. Dan ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan di akhirat." (HR. Al-Hakim)

Dalam riwayat al-Tirmidzi dan selainnya, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda; "Sesungguhnya shadaqah benar-benar memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari kematian buruk."

Selain itu, sedekah bisa menghapuskan dosa dan kesalahan serta menyelamatkan dari adzab Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ini seperti yang terdapat dalam hadits Shahih, "Peliharalah dirimu dari api neraka walau dengan setengah biji kurma." (HR. Al-Bukhari)

. . . Banyak sekali nash-nash yang menjelaskan keutamaan sedekah dan infak fi sabilillah.

Fungsinya, sebagai perintah bagi orang muslim agar memberikan sebagian dari hartanya untuk mengharapkan pahala yang besar dari Allah Ta'ala. . . .

Masih banyak lagi keutamaan sedekah dan infak. Tidak semua bisa disebutkan dalam tulisan singkat ini. Namun yang jelas, tidak ada rugi bagi yang memperbanyak sedekah kebaikan, khususnya dakwah dan perjuangan untuk meninggikan kalimatullah. Tentu ini dengan syarat, yaitu: ikhlas karena Allah dan berharap pahala dari-Nya semata, mengutamakan pahala akhirat dari pada pahala dunia, dan tidak diikuti dengan menyakiti orang yang diberi. Wallahu Ta'ala A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar